Monday, June 13, 2011

Magnum's Integrated Marketing Plan

 Barangkali ini pertama kali terjadi dalam sejarah pemasaran eskrim di Indonesia. Sebuah merek eskrim—Magnum, dicari-cari konsumen. Tapi hebohnya, eskrim tersebut seolah-olah raib dari pasar. Menurut Meila Putri Handayani, Senior Brand Manager Teens, Adults, & Moo PT Unilever Indonesia Tbk, pemilik merek Magnum, kelangkaan Magnum di pasar ini terjadi semata-mata karena permintaannya jauh lebih besar dari yang diperkirakan. “Kampanye Magnum telah membuat habit konsumen berubah,” kata Meila.



Meila mengatakan bahwa sebenarnya Magnum sudah diproduksi dengan kapasitas besar, namun ternyata hal itu tetap tidak bisa memenuhi demand yang luar biasa paska kampanye itu. Meila melihat fenomena itu sebagai sesuatu yang menggembirakan. “Bayangkan, konsumsi eskrim di Indonesia selama ini sangat rendah (terendah di dunia), hanya setara dua stick perorang per tahun,” katanya.


Kampanye Magnum dalam beberapa bulan terakhir ini, menurut Meila, telah mengubah habit konsumen es krim. “Ada segmen yang tidak terbiasa makan eskrim akhirnya masuk dalam kategori konsumen.” Mereka itu, kata Meila, adalah konsumen dari segmen usia lanjut, seperti nenek-nenek, yang ikut memperlebar pasar.


Demam Magnum ini, kata Meila, adalah buah dari kampanye yang sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. “Kami memang mematangkan konsepnya dahulu,” katanya sambil menambahkan bahwa eksekusi yang baik biasanya 90% berkat perencanaan yang matang. Perencanaan ini, katanya, termasuk riset pasar.


Riset kepada konsumen menunjukkan bahwa ada kesempatan buat Unilever untuk menggarap segmen dewasa, mengingat segmen ini belum “terjamah” produk es krim. Dan dari riset pula diketahui bahwa segmen dewasa ternyata menggemari produk premium. Temuan menarik lain, orang dewasa mengonsumsi eskrim untuk mendapatkan kepuasan. “Dan kami menginterpretasikan kepuasan itu setara dengan cita rasa cokelat,” kata Meila. Maka kemudian Magnum memulai perjalanan barunya dengan mengaitkan brand ini dengan imaji kualitas cokelat Belgia.


Langkah selanjutnya, kata Meila, adalah mengemas strategi komunikasi dengan penekanan pada perlakuan manis ala putri raja, pemanjaan, dan pemenuhan fantasi yang penuh dengan pelayanan. “Maka lahirlah TVC dengan konsep putri kerajaan itu.” Meila menambahkan bahwa target komunikasi TVC itu pada awalnya adalah perempuan, khususnya yang berusia 25-35 tahun. Namun dia tak menampik jika TVC itu bisa menarik segmen umum pada usia 18-45 tahun. 

Meskipun dibombardir dengan isu-isu negatif seperti mengandung unsur babi dan lainnya namun keberadaan Magnum di Indonesia tetap mampu bertahan. Semua ini merupakan keberhasilan Magnum di dalam berkomunikasi dengan menggunakan strategi komunikasi 360 derajat, dan memaksimalkan semua media. “Sebagai komunikasi yang terintegrasi, pesannya sama, yaitu “Magnum will indulge you like a princess,” katanya. Hal ini menjadi benang merah dari semua komunikasi yang digunakan, termasuk TVC, dan on-ground activity. Namun, satu hal yang membedakan Magnum dengan merek lain, adalah Magnum sangat fokus pada produk karena, kata Meila, dalam mengemas produk, marketer terlalu berlebihan mengemas cerita. “Pada Magnum, product has to be the hero,” katanya. Meski tidak merinci besarnya nilai penjualan Magnum, Meila mengaku sangat puas. “Dari skala 1 sampai 10, nilai kepuasan kami 8,” katanya sambil tersenyum.

Tuesday, May 10, 2011

DI MOMEN INI

Telah aku tetapkan untuk mencintaimu
Dalam rajutan waktu saat pertama kali pengungkapannya
Ku iringi niat ku dalam langkah-langkah berani
Meskipun takkan pernah "bisa" katamu…
Meskipun takkan pernah "mungkin" katamu…
Meskipun kau telah ciptakan hutan pekat di tengah jalannya
Saksikanlah, aku takkan pernah gontai menghadapinya
Atas duri-duri jalan dan terjalnya aral
Aku bukan pengecut meskipun telah kau pecundangi
Hingga saat ini aku lelah dan menanti saat yang tepat untuk memulai
Bukan,
Bukan karena aku telah patah arang
Karena aku telah tekadkan hati di depan realita "ketidakmungkinannya"
Maka kutitipkan sebagian hidupku di dalam hutan buatanmu
Karena masa depan, karena hidup ini harus terus berjalan.

Saturday, May 7, 2011

5 Perusahaan Waralaba Di Indonesia & Syarat Pengajuannya


Jika kita adalah calon pengusaha pemula, waralaba menjadi pilihan bisnis yang menarik. Pasalnya, Anda tidak memulai bisnis dari NOL lagi. Melalui pola franchise, setidaknya Anda mengantongi berbagai keuunggalan: baik dari sisi brand, system, support, sharing experience, promosi nasional dan lainnya. Dengan berbagai keuunggulan diatas tentunya, tingkat resiko kegagalan dalam membangun bisnis dapat ditekan.
Berikut ini adalah 5 perusahaan waralaba dan persyaratannya bagi mereka yang berminat menjadi rekanannya :

1. INDOMARET
Persyaratan :
  • Warganegara Indonesia
  • Menyediakan ruang usaha ukuran 120-150 m2 (sewa / milik sendiri)
  • Memiliki NPWP dan PKP, serta kelengkapan perijinan lainnya
  • Investasi perlengkapan toko dan biaya waralaba

2. ALFAMART
Persyaratan :
  • Perorangan / corporation
  • Warganegara Indonesia
  • Sudah atau memiliki tempat untuk usaha dengan ukuran minimal 80 m2
  • Lulus persyaratan perijinan
  • Setuju untuk mengikuti sistem dan prosedur dari Alfamart

3. AYAM BAKAR WONG SOLO
Persyaratan :
  • Warganegara Indonesia
  • Pimpinan operasional usaha harus laki-laki, beragama Islam, usia 25 - 40 thn, pendidikan minimal D3
  • Perorangan / Badan hukum
  • Lulus seleksi / persetujuan Wong Solo
  • Memiliki modal yang cukup untuk mendirikan usaha

4. KENTUCKY FRIED CHICKEN
Persyaratan :
  • Mengajukan surat penawaran 
  • Luas area minimal 300 m2
  • Melampirkan foto lokasi
  • Melampirkan peta lokasi dengan radius 5 km yang memuat info aktifitas yang ada
  • Melampirkan data penduduk

 
5. PAPA RON'S
Persyaratan :
  • Warganegara Indonesia
  • Berdomisili di tempat usaha yang diajukan
  • Luas area minimal 125 m2
  • Investasi equipment minimal Rp 600-800 juta

Tuesday, May 3, 2011

Pernyataan Asmara


Tidak pernah aku belajar untuk mencintai mu. Tidak dalam katalog buku, atau searching internet melalui google atau wikipedia, bahkan omegle. Lisan ini hanya berbicara ketika dimaklumatkan dan kau hanya ada ketika memang waktu mempertemukan saja.

Tidak pernah aku belajar untuk mencintai mu. Bahkan pernah aku membenci dari beberapa tindakan dan respon kekanakkanmu. Seperti menelan sekepalan batu dan menyangkut ditenggorokan. Lalu repihannya berceceran di sekitar hati dan aku belum peduli.

Tidak pernah aku belajar mencintai mu. Sebuah premis-premis basi mengenai cinta yang dialamatkan remaja-remaji labil itu bagaikan asap yang kemudian menghadirkan diri mu. Sebuah analisa singkat dan cetek yang kemudian merenggut perhatian bahwa aku ternyata memiliki potensinya. Dan ini, menciptakan badai yang membutakan mata ku.

Aku melihat mu. Aku mengenal mu. Aku menginginkan mu dan kau membutuhkan ku. Seperti terciduk lalu dituangkan kemudian diaduk. Lalu jadi lah pesona itu menarik perhatian ku : Aku mencintai mu...

Setiap kesimpulan ternyata membutuhkan faktor-faktor. Unsur-unsur pendukung memuntahkan argumen kontra. Belum pernah aku merasakan hal seperti ini. Dan kau orang pertama dan akan menjadi yang terakhir dalam kehidupan asmara ku. Dan aku sadar dan yakin bahwa aku mencintai mu, melalui dunia dan seisinya dimana aku dapat melihat mu.

Hati ku kini membagi dua, dan satu untuk mu...

PERBANDINGAN HARGA TIKET PESAWAT GARUDA & AIR ASIA

Ketika Air Asia melakukan promo harga besar-besaran, seperti harga tiket Jakarta - Kuala Lumpur seharga dibawah Rp 400.000,- setiap orang penikmat jasa travel dan penerbangan terkesan dengan harga "miring" yang ditawarkan Air Asia. Hingga kini perusahaan penerbangan tersebut lebih dikenal sebagai perusahaan jasa penerbangan termurah di Asia.
Hal itu tidak terlepas dari usaha menciptakan branding position Air Asia sebagai The Asia's Leading Airlines, dengan menggapai konsumer-konsumer masyarakat kalangan menengah, khususnya di wilayah Indonesia yang tingkat konsumsinya lebih tinggi ketimbang pendapatannya. Dan biasanya penetapan harga yang murah selalu berdampak pada kekurangsempurnaan pada pelayanan tertentu dengan harapan dapat bertahan didalam persaingan bisnis.
Namun tampaknya Air Asia mampu mengkomunikasikan produk layanannya dengan baik, terbukti bahwa image yang diserap masyarakat adalah bahwa Air Asia dapat dihandalkan dalam strategi penetapan harga tiketnya yang murah sehingfa mampu menutupi segala kekurangannya didalam pelayanan dan fasilitasnya yang lain.
Bahkan, hingga kini, Air Asia tetap konsisten pada usahanya menetapkan strategi penetapan harganya, hal ini dapat dilihat di : http://www.adadiskon.com/category/7/travel-hotel.html.

Terlepas dari kepemilikan Garuda Airways oleh pemerintah Indonesia, Garuda Airways berusaha menjadikan dirinya tidak terpisahkan dengan Indonesia itu sendiri. Hal ini dapat dimaklumi dengan hubungan history Garuda Airways sebagai alat penerbangan pertama milik Indonesia didalam memerdekakan negeri. Dan usaha mengkomunikasikan hal tersebut dapat dilihat diseluruh TVC dan iklan-iklan yang beredar di media massa yang ada.
Lalu bagaimana dengan strategi penetapan harga yang dilancarkannya? Berbeda dengan Air Asia, Garuda Airways menetapkan harga yang sedikit diatas harga rata-rata tiket pesawat yang ada. Namun penetapan harga tersebut juga di-cover dengan pelayanan penerbangan yang sempurna hingga kepada fitur-fiturnya seperti : layanan jamuan makan pada saat penerbangan.
Garuda Indonesia juga berusaha menjangkau destinasinya hingga ke mancanegara bahkan hingga hampir ke seluruh dunia.
Garuda Airways berusaha membidik kalangan atas dengan psikografi pencari sensasi penerbangan yang berkarakter ke-Indonesiaan dan bukan sekedar sampai ke tujuan dengan cepat, aman, dan tepat waktu.
Meskipun penerapan strategi ini berhasil, bukan berarti Garuda Airways tidak memikirkan perihal strategi penetapan harga tiket yang murah. Nyatanya Garuda Airways menciptakan unit bisnis yang bernama Citilink yang mulai beroperasi pada tahun 2001 yang berusaha menggapai kalangan menengah yang membutuhkan layanan harga tiket murah dalam penerbangan. Namun jangkauan destinasi Citilink ini hanya terbatas pada penerbangan domestik saja. Berbeda dengan Air Asia yang destinasinya hingga ke mancanegara.


Monday, May 2, 2011

PROGRAM BRANDING UAI MEMANFAATKAN SOCIAL MEDIA

Media sosial merupakan fenomena di seluruh dunia dan orang-orang dari semua lapisan masyarakat menggunakan beberapa jaringan sosial untuk memperoleh atau berbagi informasi, juga sebagai sarana utama komunikasi dan ekspresi diri. Pengguna Facebook kini lebih dari 500 juta pengguna, Twitter lebih dari seratus juta, dan YouTube merupakan mesin pencari kedua terbesar di dunia.Fenomena ini juga mempengaruhi tindakan pengguna social media didalam melakukan tindakan keputusan, termasuk didalamnya dalam hal berbelanja / berinvestasi. Sehingga banyak program branding suatu produk terkemuka melakukan kegiatan komunikasinya di social media. Sebut saja Blackberry Pad, sebelum melakukan promosi peluncurannya, Blacberry Pad diperkenalkan dan diperbandingkan dengan produk semacam IPad di youtube (lihat: www.youtube.com/watch?v=34ReHikyLJM )
Pada kesimpulannya, mengabaikan peran social media didalam pemasaran sa
ma saja memberikan bantuan pesaing anda menggapai calon-calon konsumer yang tepat dengan cara yang efektif.


Universitas Al-Azhar Indonesia merupakan universitas yang menggunakan sistem manajemen berbasis euntreprenuership dengan unsur-unsur religius. Dengan 7 elemen dasar sebagai pembekalan utamanya, berupa : teknologi informasi, program bahasa, jaringan mitra strategis, kepemimpinan, keahlian manajemen, kewirausahaan, dan pengetahuan keislaman, menjadikan UAI siap berkompetisi sebagai institusi pendidikan bertaraf internasional di Indonesia.
Sebagai salah satu universitas dibilangan Jakarta Selatan yang kompetitif, menempatkan citranya dibenak khalayak penduduk DKI Jakarta membutuhkan strategi promosi yang kreatif sebagai pembuktian yang nyata atas program pendidikan yang diusungnya. Juga sebagai bentuk persaingan yang nyata dari banyaknya keberadaan universitas-universitas swasta lainnya di bilangan Jakata Selatan, seperti : LSPR, Binus, Paramadina, Moestopo, dll.

Universitas yang kini memiliki jumlah mahasiswa sebanyak 1959 orang ini memiliki web nya sendiri, uai.ac.id, dan berbagai macam link-link nya di social media yang ada seperti di Facebook dan Twitter. Akan tetapi program branding UAI lebih terfokus kepada web resminya saja dibandingkan dengan pemanfaatan jaringan social media yang sudah dibuatnya. Untuk lebih mudahnya kita dapat perhatikan bagaimana UAI tidak menciptakan blog nya sendiri seperti yang telah dahulu dilakukan oleh Binus yang bahkan kini mampu membangun jaringan TV streaming di dalamnya. Atau bahkan UAI hampir tidak terlihat mempublikasikan kegiatan-kegiatannya di dalam youtube.

Pada dasarnya didalam pemasaran terdapat istilah, "lakukan dengan benar pada saat yang tepat". Kini sudah waktunya bagi UAI untuk benar-benar ikut terlibat dan memfokuskan kegiatan promosinya di jaringan social media, untuk dapat benar-benar berkompetisi dengan universitas-universitas yang lain khususnya dibilangan Jakarta Selatan.