Tuesday, February 9, 2010

PENINGGALAN NABI ITU ADA DI JAKARTA


Asap knalpot, lembab dan panas tak menyurutkan saya menyaksikan pameran Pedang Nabi di Hall B, Blok M Square. Kegiatan hasil kerjasama Pemerintah RI - Turki tersebut di organized oleh salah satu perusahaan Agung Sedayu Group. Sejujurnya saya jarang ke Blok M Square ini Syukurnya ada satpam, demi yang secara formalitas lebih pas untuk ditanyai.

Jika saya perhatikan, lokasi tepatnya kegiatan pameran tersebut berada di agak timur mall Blok M Square. Jika seandainya saja saya memasuki pintu masuk utamanya, maka saya harus belok ke kiri sedikit dan diperempatan gang saya langsung belok ke kanan. Bangunannya yang semi permanen tidak begitu mencolok dan tidak sesuai dg artikel sebelumnya yang mengatakan bergaya turki-utsmani. Jika saja tidak ada pria yg berbusana layaknya aladin, saya pasti berinisiatif kembali bertanya kepada satpam mall.

Teknisnya harus rombongan. Dan karena saya telat, saya harus bersabar menunggu. Sendirian! Maka agar tidak terlihat bodoh, iseng-iseng saya berdialog dengan penjaga pameran. Dari penuturannya saya tahu bahwa bangunan tersebut terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama merupakan ruangan visual-audio . Kemudian di ruangan kedua merupakan ruangan yang dilarang keras untuk mengabadikan diri, alias berfoto-foto ria, karena satu dan lain hal, menurutnya. Diruangan terakhir merupakan ruangan dimana pengunjungnya dengan bebas melakukan gaya senarsis mungkin dengan kamera yang dipunyai. Tapi karena tidak terlalu lama menunggu saya potong pembicaraan saya lalu segera saya berikan karcis masuk seharga Rp15ribu itu kepada pria berpakaian aladin.

Ruangan visual-audionya begitu sederhana. Layarnya yang kecil "dijaga" oleh patung ksatria saracen dan satu pohon kuping gajah. Rombongan saya hanya empat orang menonton kisah hidup Sholahuddin al-Ayyubi. Sebuah tontonan yang mengharu biru. Dua jempol untuk tontonannya. Sayang tidak ada popcorn dibawa!

Ruangan kedua adalah ruangan pameran. Di dindingnya bergantung pigura-pigura mengenai kekhalifahan utsmani. Kotak-kotak kaca pun ditata rapih, bersandar ditiap sisi-sisi dindingnya. Sebetulnya banyak rasa penasaran saya terhadap barang-barang di dalamnya. Namun kelihatannya sang pemandu tur kurang memiliki wawasan yang mendalam terhadapnya. Jadi, ya..cukup tau.

Semua barangnya adalah extraordinary! seperti sandal bagian kanan Nabi saw. yang tepatnya bisa dikatakan sandal gunung dari kulit onta. Kok, hampir sama dengan sandal gunung yang biasa saya gunakan dulu yah? Terdapat tali sandal yang melindungi punggung kaki. Jadi..seperti connected gitu, haha!

Lalu busur sederhana Nabi saw. berjumlah dua. Satunya terbuat dari batang bambu dan satunya lagi dari kayu kurma. Keduanya memiliki model yang sederhana sekali. Jadi kebayang militansi kaum muslimin yang hanya berbekal perlengkapan perang sederhana.

Tongkat Nabi Musa as. juga gak kalah seru. Beberapa bagiannya terlihat keropos dengan panjang 180 cm. Namun begitu, ketika diceritakan tongkat tersebut pernah membelah Laut Merah menjadi 12 jalur, dan pernah berubah menjadi ular hitam besar, saya jadi bergidik sendiri. Faktanya tongkat tersebut tidak diketahui berasal dari apa. Para ahli hanya memprediksi tongkat tersebut berasal dari pohon phutaka (tauk dah pohon paan tu!). Fakta panjangnya tongkat juga mencirikan bahwa Nabi Musa as. memiliki tinggi badan yang relatif sama dengan tongkatnya. Karena bagian tengah tongkatnya memang untuk dipegang, bukan bagian atasnya seperti tongkat Nabi Muhammad saw.
Pedang-pedang yang pamerkan juga seru semua. Ada pedang yang biasa digunakan Nabi saw. ditiap perangnya bernama Al Rasoob. Kemudian pedang emas milik ayahnya yang memiliki gagang ular. Lalu pedang Nabi saw. yang memang miliknya sendiri. Ada juga pedang Nabi saw. yang bagian tengahnya terdapat garis cekungan untuk membuang darah musuh secara otomatis jika ada yg tertebas bernama Dhu Al Faqar.

Tapi dari sekian pedang yang ada, yang membuat saya tertegun adalah pedang Al Battar yang dibagian tengah pedangnya tersisipkan nama-nama Nabi lainnya. Konon pedangnya pernah digunakan oleh nama-nama tersebut. Dan nantinya akan difungsikan untuk membunuh Dajjal (w.o.w!). Seperti pedang legendaris saja, "siapa saja yang menggunakanny akan menjadi orang terkenal!!" haha..

Saya sempat bertanya mengenai kotak kaca terkecil yang dipamerkan, "apakah dua batang siwak ini merupakan sisa milik Rasul saw. ?" Belum sempat dijawab oleh sang pemandu, rekan pengunjung tua kami langsung menyela dan mengatakan bahwa hal seperti itu tidak mungkin terjadi. "Mana mungkin ada sisa siwak milik Nabi disimpan. Tidak ada gunanya!" begitu pendapatnya. Dan sang pemandu hanya diam seribu bahasa. "Ok. Ur quite brave and clever, old-man..!"

Sayangnya di ruangan ketiga tidak semenarik sebelumnya. Cuma replika murahan dua pedang Nabi saw. yang perkiraan saya terbuat dari olahan kardus padat. Tapi diruangan itu punya kelebihan sih, bisa foto-fotoan dengan siapapun lah. Bisa dengan pemandunya atau penjaganya. haha..siapa yg mau?

Tapi banyak juga loh yang berkunjung. Setelah saya keluar ternyata antriannya panjang banget! Semoga saja tetap seperti itu...